KISAH-KISAH NYATA MENGENAI HUKUM KARMA + RAHASIA TENTANG
ABORSI
(Sumber saya ambil dari Reaching Higher Spiritual
Dimentions; The Realization of the Spiritual Master ; Flying Carpet of The East)
Ada seorang pengarang buku penunjuk wisata
(travel guide yang berkata bahwa di pintu gerbang Utara dari Hong Yueh Hsiang
Jiang (sebuah tempat wisata di Tiongkok yang terkenal dengan keindahan
pemandangannya) ada sebuah menara yang disebut Menara Kembalinya Angsa.
Diatas menara itu terdapat sebuah syair yang berbunyikan demikian :
"Tiba-tiba suara lonceng bel terdengar
ditengah-tengah mimpi yang dalam : meskipun mimpi itu begitu menarik tetap saja
orang itu harus terbangun. Tidak perduli betapa menarik dan nyamannya
hidup seseorang, suatu saat ia harus kembali. Syair ini mengandung arti
rohani yang begitu mendalam. Aku membaca syair ini berulang kali di dalam
hati, merasakan betapa pentingnya maknanya bagi kehidupan manusia. Aku
bahkan menghafal syair ini dan menjadikannya sebagai pendorong semangat.
Sungguh benar bahwa hidup ini bagaikan sebuah mimpi yang panjang dengan aneka
ilusi yang bewarna-warni. Aku ingin bertanya kepada para pembaca :
Kapankah engkau akan sadar ? Kapankah engkau akan kembali ?
Syair ini mengingatkanku akan hukum karma.
Karma adalah buah dari keinginan kita. Semua keinginan itu tercatat di
alam semesta sebagai benih-benih karma yang pada kondisi yang tepat akan
mewujudkan diri. Ketika buah dari keinginan kita itu telah matang, hukum
karma itu selalu adil, tidak pilih kasih. Mereka yang menanam benih yang
baik menerima yang baik; mereka yang menanam benih yang jahat menerima karma
buruk. Inilah hukum karma.
Banyak orang tidak menghiraukan hukum karma, mereka berkata,
"Sekarang adalah zaman modern, mengapa masih membicarakan cerita-cerita kuno
yang menganjurkan perbuatan kebajikan ? Ini hanya akan ditertawakan orang.
" tetapi sesungguhnya bila direnungkan, oleh logika dari zaman sekarang
yang penuh dengan penemuan-penemuan ilmiah ini sesungguhnya adalah berdasarkan
hukum sebab akibat, hukum karma. Hukum karma bukanlah cerita kanak-kanak,
bukanlah cerita yang sederhana. Juga bukan sekedar cerita yang
menganjurkan kebajikan. Hukum karma adalah topik yang serius.
KARMA BURUK AKIBAT BERBURU BURUNG
Pada suatu hari ada seorang pria setengah tua datang
mengunjungiku. Ia tidak menaruh kepercayaan tentang adanya hukum karma.
"Pak Li, perkataan anda itu tidak masuk akal." "Aku tidak tahu apa yang harus
aku katakan untuk membuat anda mengerti," Kataku. "Sudah sangat
jelas bahwa banyak orang yang berbuat kejahatan tidak mendapat ganjaran /
hukuman karma. Sebaliknya, banyak kenaasan / kesialan terjadi pada orang
yang baik hati. Hukum karma macam apa itu bila benar berlaku di alam
semesta ini ?"
"Aku betul-betul tidak tahu harus mengatakan apa." "Ini
adalah zaman modern, zaman ilmu pengetahuan teknologi tinggi, bukan zamannya
hukum karma!" "terserah anda," jawabku. "Anda tidak ingin berusaha
meyakinkanku tentang hukum karma ?" "Saya biasanya berpasrah kepada hukum
karma." Aku berpikir dalam hati, "Orang ini sungguh keterlaluan." "Ada
sebuah syair yang berbunyi seperti : Alam semesta dapat dibohongi, ia mengetahui
itikad hatimu, bahkan sebelum itikadmu muncul.
Pada akhirnya akan ada buah karma baik dan karma buruk, dan
sebagian lagi datang lebih terlambat." Ia berkata dengan sinis, "Sudah
cukup, Sudahlah. Perkataan yang tak berguna." "Pak, anda datang mencariku
hari ini karena anda tidak ingin percaya tentang hukum karma, apakah begitu ?"
tanyaku dengan sopan.
"Bukan, aku datang untuk bertanya kepadamu mengapa kedua
Putraku cacat tidak dapat berjalan ? Apa salahku ? Mengapa alam semesta
memperlakukanku sekejam ini ? Aku tidak pernah melakukan kejahatan di
dalam hidupku! Aku mentaati hukum dan berkarakter tanpa cacat.
Mengapa anak-anak orang lain sehat sempurna, sedangkan anak-anakku cacat ?
Aku tidak bisa menerima kenyataan ini. Hukum karma macam apa ini ?"
Mendengar penjelasannya, aku sungguh turut bersimpati.
Aku tidak dapat menyalahkan perasaannya yang gundah kelana sekarang ini.
Anak-anak yang cacat juga manusia, tetapi kondisi mereka yang cacat tentunya
membuat perasaan orang tua mereka menderita, membuat orang tua mereka bersedih.
Aku menenangkan pikiranku dan menggerakkan rohku untuk mendapatkan informasi
dari dunia roh tentang situasi ini. Setelah kira-kira 3 menit, muncul sebuah
penglihatan di depanku. Penglihatan itu berkedap-kedip seringkali.
Selama satu menit penuh aku melihat dengan jelas sejumlah burung-burung terbang
di angkasa. Langit berwarna biru sedangkan burung-burung itu bewarna putih.
"Pak, harap jangan marah. Menurut pengertian saya,
anak-anak anda adalah reinkarnasi dari burung-burung." "Kurang ajar!
Bagaimana burung-burung bisa bereinkarnasi sebagai manusia? Mana mungkin?"
"Ada 6 alam kehidupan yang masih bertumimbal lahir (bereinkarnasi). Alam
binatang adalah salah satu dari 6 alam kehidupan ini." "Aku tidak percaya."
"Pak, bila anda tidak bisa percaya, tidak ada yang saya dapat lakukan.
Tetapi saya ini ingin anda berpikir sejenak. Dalam kehidupan anda ini
apakah anda mempunyai semacam hubungan karma dengan burung-burung? Apakah
Dengan marah, "Aku tidak mempunyai kebiasaan-kebiasaan jelek
dalam hidupku ini. Aku tidak minum arak, tidak main perempuan, tidak gila
uang, tidak sombong. Hidupku normal saja. Aku selalu membantu orang
lain. Jahanam! Aku hanya mempunyai satu hobby" Ia tiba-tiba
menghentikan pembicaraannya.
"Hobby apa?" "Berburu. Berburu burung! Berburu
burung! Jahanam!" Ia pergi dengan perasaan marah. Sejenak aku
termenung, meskipun tidak dapat kukatakan bahwa aku terpengaruh oleh pengalaman
ini. Bila aku mempunyai sesuatu komentar, hanyalah bahwa ini adalah suatu
kasus dari banyak kasus tentang karma. Tetapi aku sungguh sudah terbiasa
dengan kasus hukum karma.
RAMBUT YANG ANEH
Ketika aku memasuki pintu kantorku aku melihat seorang pria
berdiri di luar di bawah sebuah pohon tua. Ia berusia 50 tahun, dan ia
memakai sebuah topi Sherlock Holmes (tokoh legenda Inggris yang terkenal sebagai
detektif ulung yang selalu memakai topi yang khas sewaktu berpergian).
Ketika ia melihatku, ia memanggil-manggil, "Pak Lu! Pak Lu"
Aku biasanya tidak menghiraukan orang yang tidak kukenal.
Sejak buku-buku karya tulisanku diterbitkan, terlalu banyak orang yang datang
mencariku. Kadang-kadang aku sampai takut untuk pulang ke rumah! Setiap
kali orang mencariku, aku menggunakan kekuatan batin menolong mereka.
Terlalu sering mengalami hal ini mengganggu kehidupanku. Aku sering pindah
dari satu tempat tinggal ke tempat tinggal lain untuk menghindar, tapi orang
selalu akhirnya menemukanku lagi.
Saudara Lu! Tunggu sebentar. Ada sesuatu hal yang
lain daripada yang lain yang ingin kubicarakan dengan anda." "Ada urusan
apa?" "Mengenai rambutku yang aneh." Ia melihat sangat pucat. "Rambut
aneh?"
Ia melepaskan topinya. Aku lihat di atas kepalanya
terdapat bagian rambut yang berwarna seperti kopi. Bagian rambutnya yang
lain hitam seperti normal. Wajahnya juga terlihat aneh. Aku melihat
rambutnya dan kemudian kembali memandang wajahnya dengan seksama. Mulailah
kulihat perubahan di expresi mukanya. Matanya mencekung lebih dalam.
Hidungnya menjadi lebih pesek. Bibirnya menjadi lebih besar. Wajah
yang tadinya kelihatan halus telah hilang. Sebagai gantinya, wajahnya
sekarang terlihat seperti monyet.
"Itu rambut monyet!" Aku berkata dengan agak
terperanjat. Aku tercengang. "Betul. Memang rambut monyet."
Jawabnya sambil memakai topinya lagi. "Aku telah memberikan contoh
rambutku kepada dokter untuk diperiksa. Betul-betul terbukti bahwa ini
adalah rambut monyet."
Inilah kisah tentangnya : Namanya adalah Hung Tsu-Wang.
Ia tinggal di Kota Yilan. Ia berusia 54 tahun dan dalam keadaan sehat.
Tiga tahun yang lalu ia mendapat kecelakaan terjatuh dan terbentur kepalanya.
Sejak saat itu sebagian rambutnya menjadi berwarna kopi dan tumbuh dengan cepat.
Bersamaan dengan datangnya rambut aneh tersebut, tingkah lakunyapun berubah.
Sifatnya yang tadinya tenang dan lembut menjadi liar. Bahkan, setiap malam
antara jam 10 dan 11, Pak Hung berubah wajahnya dan meloncat-loncat seperti akan
bersuara seperti monyet. Ia menjadi sangat suka dengan kacang, pisang, dan
anggur.
Bila ia tidak dapat menguasai diri lagi, keluarganya akan
menguncinya di kamar. Setelah kira-kira 1 jam, ia kembali normal. "Apakah
kau pernah mempunyai hubungan badan dengan monyet-monyet?" Tanyaku.
"Tidak." "Tidak bohong?" "Sama sekali tidak."
"Hmmm, kalau kau tidak pernah bersetubuh dengan monyet, maka
ini kemungkinan disebabkan oleh karma masa lalumu. Aku akan menyelidikinya
malam ini dalam waktu meditasiku. Pulanglah, besok aku akan memberikan
jawaban." "Besok! Aku tidak dapat tinggal di Hotel! Aku harus
pulang ke rumah. Mungkin aku kembali saja dalam beberapa hari. Aku
harap anda dapat menolongku karena orang lain tidak ada yang bisa. Setiap
malam pada jam 10 aku harus disuntik dengan obat penenang. Tidak ada obat
lain."
Malam itu aku duduk dan di dalam hati membaca mantra serta
menyebut namanya, tanggal lahirnya, dan alamat rumahnya. Kemudian aku
berkosentrasi. Aku melihat sebuah lingkaran sinar kuning. Di dalam
lingkaran itu muncullah lautan. Kemudian, aku melihat sebuah pelabuhan.
Ada banyak serdadu Jepang turun dari perahu itu.
Aku melihat sekelompok serdadu Jepang sedang makan dan minum.
Seorang dari serdadu itu telah menyandera dan mengikat seekor monyet.
Seorang serdadu lainnya berdiri, mengeluarkan pisau belatinya, dan kemudian
membunuh monyet itu. Monyet itu berteriak. Darahnya muncrat keluar.
Serdadu-serdadu itu berteriak-teriak penuh semangat dan kegembiraan.
Mereka bermaksud memakan daging monyet itu.
Aku mengamati serdadu yang memegang pisau itu dengan lebih
seksama. Ternyata itu adalah Pak Hung. Beberapa hari kemudian Pak
Hung datang lagi mencariku. "Apakah anda pernah menjadi serdadu Jepang?"
"Ya, sebelum Perang Dunia II, sebelum Jepang menyerah.
Kami direktur." (Cat : Taiwan dijajah Jepang selama 60 tahun. Penjajahan
tersebut berakhir ketika Perang Dunia II usai. Pria-pria Taiwan direktur
untuk berperang membela Jepang selama Perang Dunia II.)
"Kemana kau ditugaskan sewaktu menjadi serdadu?"
"Sumatra." "Kau membunuh seekor monyet di Sumatra? Benar, kan?"
"Astaga!" Hung berteriak keras. Wajahnya menjadi
pucat. Alisnya basah dengan keringat. Ia berpikir sejenak dan
kemudian berkata, "Sekarang aku ingat! Pada saat itu tidak ada yang berani
membunuh monyet itu! aku masih muda. Aku yang membunuh monyet itu
dan semuanya ikut memakan dagingnya. Ya! Itulah kejadiannya.
Apa yang dapat aku lakukan sekarang? Apa yang harus aku lakukan!"
Untuk hal seperti ini aku tidak mempunyai jalan keluar.
Ini adalah hukuman dari perbuatan membunuh. Aku hanya heran bahwa hukuman
karma ini datang begitu cepat kepadanya. "Sebelum kau mengalami kecelakaan
terjatuh, kemana engkau pernah pergi?" "Sehari sebelumnya, aku pergi ke
Chi-lung menemui temanku. Ia adalah seorang pelaut. Ia baru saja
kembali dari Sumatra. Apakah ini ada hubungannya dengan kasus ini?"
"Hal itu mempercepat proses pembayaran karma." Kataku.
"Dapatkah anda menolongku?" "Maaf, tidak bisa." Ketika aku memandang
rambutnya yang aneh, aku merasa menyesal tidak dapat menolongnya. Tak ada
sesuatu yang dapat kukatakan. Meskipun aku dapat melihat kejadian masa
lalu dengan jelas. Aku tidak dapat mengubah karma seseorang. Aku
hanya dapat berdoa untuknya dan berharap semoga karma ini dapat diselesaikan
sesegera mungkin. "Ini adalah karmamu." Aku berkata dengan suara
halus. "Engkau harus melunasi karma burukmu." "Bagaimana caranya?"
Ia berkata dengan suara kecewa. "Ikutilah hati nuranimu. Berdoalah
kepada Budha."
SEORANG BIKSU YANG MENIPU ; AIR MATA MENGALIR
Pada suatu kali aku mengunjungi temanku di sebuah tempat
memancing ikan yang bernama Tung-Kang (Pelabuhan Timur). Temanku juga
mengundang seorang tamu yang datang dari kota Fan-Chung. Namanya adalah
Wen tung-sahn. Ketika ia diperkenalkan kepadaku, ia berseru, "Ah!
Kedatanganku kemari sungguh tidak sia-sia dapat bertemu dengan anda! Aku
pernah datang ke rumah anda tapi tidak pernah mempunyai kesempatan bertemu anda
karena anda tidak berada di rumah sewaktu aku datang."
"Maaf, aku sering berpergian," Kataku. "Aku juga telah
menulis surat kepada anda, tetapi belum mendapat balasannya." "Maaf, saya
menerima berlusin-lusin surat setiap harinya. Aku hampir tidak dapat
membalas sebagian besar surat itu, aku merasa tidak enak mengenai hal ini."
"Saudara Lu, lihatlah kedua mataku!" Kata Wen, "Apakah anda
melihat sesuatu yang unik?" Aku mengamati dengan seksama, kemudian
menggelengkan kepala. Kedua mata Pak Wen sangatlah jernih. Tidak ada
yang aneh. "Coba lihat sekali lagi," Katanya memohon.
Aku menggunakah mata batinku untuk melihat dengan lebih
hati-hati. Kali ini aku melihat dengan lebih hati-hati. Kali ini aku
melihat sebuah kolam yang besar dan sebuah sungai yang airnya mengalir.
Aku tidak tahu apa artinya itu, tetapi aku memberitahukan kepada temanku dan Pak
Wen apa yang telah kulihat. Wen terdiam sejenak, kemudian berkata, "Sangat
menarik." Sang tuan rumah, temanku, tersenyum dan mengangguk. "Apa
yang kau lihat itu masuk diakal." Katanya.
Wen kemudian menceritakan bahwa ketika ia berusia 18 tahun,
suatu malam ketika ia bermaksud tidur, tiba-tiba ia mulai menangis tanpa alasan
yang jelas. Air matanya mengalir terus sampai ia kelelahan.
Pengalamannya itu membuatnya bertanya-tanya, tetapi ia masih belum terlalu
menaruh perhatian pada saat itu.
Sejak saat itu, selalu menangis setiap malam sebelum ia tidur.
Meskipun hari yang dilaluinya merupakan hari yang penuh dengan pengalaman yang
menggembirakan, ia tetap menangis sebelum tidur. Ia mulai menghindari
teman-temannya di malam hari karena hal ini.
Wen sekarang berusia 40 tahun. Berarti ia telah
menangis secara rutin di malam hari selama 22 tahun atau lebih dari 8000 kali.
"Apa yang terjadi pada pagi dan siang hari?" Tanyaku.
"Tak ada yang aneh atau unik pagi atau siang hari." Sudahkah anda
pergi ke Dokter. Bahkan dokter jiea. Tidak ada yang dapat memberikan
jawaban. "Ini baru pertama kalinya aku mendengar hal seperti ini, " Kataku
dengan jujur. "Saudara Lu, dapatkah anda membantu aku mencari tahu alasan
di balik pengalamanku ini?" "Baiklah." Aku berjanji.
Aku menginap di rumah temanku itu dan di malam harinya aku
meminta hio untuk dibakar. Aku pergi mandi dan mempersiapkan diri untuk
bermeditasi. Aku tulis tanggal lahir Pak Wen di atas sepotong kertas
kuning, membakarnya, dan kemudian berkosentrasi memohon petunjuk. Tidak
lama kemudian aku melihat di dalam sebuah lingkaran cahaya seorang biksu, yang
kelihatan aneh. Biksu itu tidak kelihatan seperti seorang biksu, tapi ia
memakai baju biksu. Ia memegang tasbeh di tangannya dan terus menyebut
nama Amitabha Budha.
Aku melihat biksu itu meminta sumbangan dari rumah ke rumah.
Kemudian, setelah mendapatkan uang, dengan gembira ia pergi untuk makan minum.
Aku juga melihat ia pergi ke sebuah kuil dan meminta uang kepada biksu pengurus
kuil. Ia berkata, "Demi nama Amitabha Budha dan Kwan Im yang penuh welas
asih, uangku dicopet. Saya perlu kembali ke tempat saya. Dapatkah
anda meminjamkan saya uang?"
Ia meminta sumbangan uang dari orang-orang dengan mengatakan
bahwa ia bermaksud membangun rumah sakit dan rumah perjompoan. Tetapi pada
saat kali, ketika ia sedang meminta sumbangan, usaha penipuannya itu diketahui
orang.
Seorang segera berteriak, "Kemarin kami melihatmu di sebuah
kuil lain meminta uang karena ingin pulang ke kampung halaman. Setelah
diberikan, hari berikutnya engkau datang lagi untuk meminta uang. Engkau
seorang penipu. Jangan berikan dia apa-apa!"
"Amitabha Budha! Aku adalah seorang Vegetarian (Tidak
makan daging). Lihatlah, aku bahkan membawa tasbeh!" Ia menunjukkan
tasbeh itu seakan-akan itu akan melindunginya. "Sudah terbukti! Engkau
adalah seorang penipu! Teriak orang yang lain lagi. "Amitabha Budha! Anda
salah melihat orang! Kalau saya benar menipu, biarlah air matanya tidak
akan berhenti mengalir!"
Setelah itu lingkaran sinar yang kulihat itu semakin kecil
dan kecil, dan aku terbangun dari meditasiku. Keesokan harinya Wen datang
bertanya lagi kalau aku telah melihat sesuatu. "Maaf, aku tidak melihat
apa-apa." "Sudah aku sangka engkau tidak dapat menebak sama sekali."
"Anda benar," Kataku.
RAHASIA TENTANG ABORTUS (PENGGUGURAN BAYI)
Sejak pertama kali aku mulai mengalami kejadian-kejadian aneh
tapi nyata delapan tahun yang lalu, sampai sekarang aku berhubungan secara rutin
dengan dunia roh. Aku selalu terpesona dengan segala sesuatu yang kulihat
di dunia roh. Pandangan hidupku dan nilai-nilai yang kupegang berubah
sangat besar karena pengalaman-pengalamanku dengan dunia roh. Aku masih
enggan membicarakan tentang semua yang kulihat dan kudengar di dalam dunia roh.
Tetapi ada suatu pengalaman yang aku rasa perlu kuceritakan kepada para pembaca.
Aku dapatkan bahwa di balik baju indah yang dipakai oleh
wanita terdapat bayangan darah merah. Mereka terlihat baik pada wanita
yang sudah berkeluarga maupun wanita yang belum menikah. Di dalam
bayangan-bayangan itu aku dapat melihat makhluk-makhluk yang belum normal maupun
belum dewasa. Sebagian wanita memiliki lebih dari satu bayangan.
Makhluk itu memancarkan sinar putih. Karena bayangannya berwarna merah
darah. Sangatlah mudah menghitung berapa jumlah makhluk itu di dalamnya.
Pada suatu siang, ketika aku melewati sebuah jalan di kota
Tai-chung, aku secara tak sengaja merilik ke puncak dan sebuah gedung rumah
sakit bersalin. Aku melihat sebuah bayangan darah yang besar mengambang;
besarnya seperti kolam air saja! Aku merasa kaget dan takut!
Bagaimana bisa dan mengapa ada bayangan darah begitu besar disana?
Bentuknya seperti matahari terbenam, merah tua dan bercahaya.
Yang lebih menakutkan lagi, di dalam bayangan itu aku dapat
melihat makhluk-makhluk yang masih abnormal. Seperti sebuah sarang-sarang
cacing-cacing putih saja. Sangat menyeramkan. Aku merasakan kulitku
merinding dan sebagian rambutku berdiri. Aku menjadi pusing kepala dan
merasa ingin muntah. Aku dapat mencium bau darah. Sungguh sangat
tidak nyaman rasanya.
Ketika aku berusaha mengatasi perasaan tidak enak ini,
seorang wanita yang kukenal berjalan keluar dari dalam rumah sakit itu.
Namanya adalah Tsai. Ia pernah datang meminta diramal olehku pada dua
tahun yang lalu. Aku melihat bayangan-bayangan darah merah di dalam
tubuhnya.
"Oh! Pak Lu ada disini!" Ia merasa malu tersipu-sipu
melihatku. "Ini yang nomor empat, bukan?" Aku mengatakan bahwa ia
telah mempunyai tiga anak, dan sekarang aku melihat makhluk putih keempat di
dalam bayangan darah di tubuhnya. Makhluk putih keempat di dalam bayangan
darah di tubuhnya. Ia menganguk. "Engkau harus merawat tubuhmu."
"Saya tidak lagi mempunyai arti hidup." Jawabnya
"Jangan berkata demikian! Hidup ini sungguh bernilai
dan mempunyai arti. Engkau harus mencari arah hidup yang sesuai.
Dapatkanlah arah itu." "Dulu Pak Lu berkata bahwa saya akan mempunyai lima
anak. Jadi saya hanya mempunyai satu kesempatan lagi." "Karena itu
kau harus merawat tubuhmu. Ini adalah kesempatan yang terakhir." "Saya
rasa saya kena kanker barangkali. Saya merasa lelah dan sering pusing.
Wajah saya juga pucat. Bila tidak memakai kosmetik, saya terlihat seperti
mayat. Saya tidak mempunyai nafsu makan. Jantung saya berdetak
kencang. Tangan saya berkeringat. Dan saya juga mudah masuk angin."
Tidak. Engkau tidak berpenyakit kanker. Nona
Tsai. Dengarlah. Kembalilah kepada orang tuamu. Itu akan
sangat membantu." Keluarga Nona Tsai tinggal di Taiwan Utara. Nona
Tsai pergi ke Taiwan daerah tengah untuk melarikan diri dari keluarganya dan
untuk berpelesir. Aku mengulangi saranku lagi, "Pulanglah ke rumah orang
tuamu dan sering-seringlah menyebut nama Budha."
"Baiklah, saya akan mendengarkan saran Pak Lu." Ia
mengucapkan terima kasih dan kemudian berjalan pergi. Setiap kali aku
melihat bayangan darah di tubuh wanita dan melihat berapa jumlah makhluk di
dalam bayangan itu, aku dapat mengetahui berapa jumlah aborsi yang telah
dilakukan wanita itu. Jawaban yang kuberikan selalu tepat.
Aku pernah berdiskusi tentang aborsi dengan seorang temanku
yang berprofesi sebagai dokter. Ia berkata, "Tidak banyak yang dapat kami
lakukan. Kami diminta oleh para pasien; mereka menginginkan aborsi.
Aborsi adalah suatu hal yang umum. Meskipun secara prinsip, kami tidak
setuju, tidak dapat disangkal bahwa aborsi memecahkan masalah mereka.
Manusia mempunyai banyak persoalan." Ia berpikir sejenak, kemudian
melanjutkan, "Rumah sakit bersalin menghasilkan banyak uang dengan melakukan
operasi aborsi."
Aku merasa sedih memikirkan hidup dari bayi-bayi yang
di aborsi. Makhluk-makhluk janin itu sungguh tak berdaya. Setelah
diaborsi, roh mereka menempel kepada Ibu mereka atau roh mereka hanya mengambang
saja. Roh-roh yang diaborsi ini mengingatkan kekuatan (hawa) kebengisan di
dalam dunia ini.
Seringkali wanita menjadi lemah tubuhnya setelah mengalami
aborsi. Membaca doa dan bermeditasi dapat memperbaiki kondisi hidup.
Wanita yang mengalami aborsi tertolong oleh doa mereka dan doa teman-teman
mereka. Pikiran yang ramah, lemah lembut dan penuh harapan dari semua
orang berdoa sangatlah menolong baik untuk para Ibu yang beraborsi maupun
makhluk-makhluk roh janinnya.
Aku sungguh berterima kasih bahwa Nona Tsai menuruti saranku
dan kembali kepada orang tuanya. Ia menikah dengan seorang pria yang
bekerja sebagai pegawai negeri. Mereka sekarang mempunyai seorang Putra
yang manis.