
Manusia Modern "Kekenyangan" Informasi?
http://kapanlagi.com/
Perkembangan di bidang teknologi informasi, selain menjadi
peluang ternyata juga bisa mendatangkan malapetaka bila tak bisa dimanfaatkan
secara bijak. Orang-orang di abad modern ini cenderung "kebanjiran" informasi,
serta kehilangan pertimbangan dalam memilih hal-hal yang penting dan paling
bermanfaat bagi kehidupan mereka.
Bagaimana tidak, dengan kecanggihan teknologi internet saat ini, hampir semua
informasi yang umumnya bisa diperoleh orang lewat buku, televisi, maupun radio
kini sudah tersedia secara instan. Sehingga, lambat laun manusia modern akan
mampu menjangkau nyaris semua pengetahuan yang ada di dunia - kapan pun dan
dimana pun.
Bagi orang yang pandai memilah informasi, maka hal ini akan membuatnya bertambah
cerdas. Tapi bagi yang tidak, semua hal tersebut malah akan membuat mereka
semakin terpuruk dalam kondisi stres, karena kehilangan kesempatan untuk
berpikir, menyaring dan menampung semua informasi itu ke dalam otak mereka.
Menurut seorang pakar psikologi yang juga penulis buku "Virtual Addiction,"
David Greenfield, masyarakat di abad modern ini sudah semakin terbiasa mengalami
kondisi depresi disebabkan "kelebihan" sumber informasi.
Tapi, menurutnya, manusia juga punya batas-batas tertentu dalam menghadapi semua
hal itu. Tentu saja bila teknologi informasi bisa digunakan sesuai fungsinya,
kualitas hidup mereka akan semakin meningkat, terutama dalam hal belajar dan
berpikir.
Saat ini sudah banyak perpustakaan, lembaga non komersial, maupun perusahaan
besar seperti Yahoo, Microsoft, bahkan penerbit raksasa sekelas HarperCollins
yang memfokuskan diri untuk menangani proyek-proyek pemindaian buku dan material
cetak sehingga bisa diakses lewat indeks online.
Sebab dengan menampilkan buku aslinya di internet, orang tak akan lagi
dibingungkan dengan berbagai posting atau informasi yang cenderung bias atau
tidak akurat. Selain itu, banyak buku-buku bermutu tinggi yang belum diketahui
keberadaannya, karena masih tersimpan di rak-rak perpustakaan dan sangat sulit
diakses oleh masyarakat.
Kondisi serupa tak hanya dialami dunia penerbitan, industri pertelevisian pun
mulai melirik internet sebagai wadah menyimpan semua acara maupun berita yang
pernah mereka siarkan. Tujuannya pun tidak jauh berbeda, yaitu untuk
menyebarluaskan "pengetahuan" kepada masyarakat di seluruh dunia.
Program ini awalnya dipelopori oleh Google, hingga diikuti banyak perusahaan
internet lainnya seperti America Online dan Warner Bros yang berencana untuk
memberikan akses gratis untuk acara-acara televisi "lawas" mulai tahun depan.
Langkah serupa juga dilakukan Apple Computer yang mulai menjual beberapa episode
acara di stasiun teve ABC dan NBC seharga US$1,99 per tayangan.
Begitupun dengan siaran radio dan gambar fotografi yang saat ini juga sudah
tersedia secara online dan bisa diakses untuk umum, seperti yang dilakukan oleh
National Public Radio dan Yahoo lewat program terbarunya, Yahoo's Flickr.
Seorang pakar komunikasi dari Universitas Illinois di Chicago, Steve Jones,
mengatakan bahwa semua kemudahan akses informasi tersebut bisa membuat
orang-orang menjadi lebih "pintar." Meski harus mengorbankan banyak waktu untuk
mencari informasi, mereka juga akan mendapatkan banyak hal yang berharga dari
internet.
Tapi semua itu juga ada bahayanya, kata Steve. Karena sifatnya instan,
orang-orang lalu cenderung menerima informasi "apa adanya" dan menganggap apa
yang mereka temukan saat itu adalah sumber informasi yang terbaik, sehingga
mereka malas untuk mencari atau membandingkan dengan sumber informasi lainnya.
Bahkan, informasi yang melimpah itu seringkali membuat orang kelabakan, karena
rasa penasaran untuk mengikuti semua perkembangan yang terjadi saat ini, hingga
membuat mereka "kekenyangan" informasi. Paling tidak begitulah pendapat Jennifer
Kayahara, seorang peneliti dan pakar sosiologi dari Universitas Toronto.
Meski Del.icio.us, Flickr dan beberapa fasilitas online lainnya semakin
memudahkan orang untuk mengelompokkan informasi, namun keputusan dalam memilih
informasi yang benar-benar tepat dan sesuai kebutuhan tetap bergantung pada "kebijakan"
masing-masing individu pengguna internet.
Itu artinya, dibutuhkan keterampilan yang semakin canggih dalam mencari
sekaligus mengevaluasi semua informasi yang didapatkan secara online. Intinya
kita harus bisa memanfaatkan informasi secara proporsional, bukan malah
diperbudak informasi.
Karena bagaimanapun juga, manusia modern bukanlah manusia yang mengetahui semua
hal, melainkan manusia yang memiliki "pengetahuan" dan "pemahaman" yang cukup
tentang lingkungan dimana mereka berada. Tanpa kedua hal itu, kita cuma bisa
membebek dan membeo di tengah derasnya arus informasi.
